Jeritan Hati Anak Petani

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Sepenggal lagu yang menggambarkan bahwa penduduk negeri ini mayoritas adalah petani. Dimana mata pencahariaan mereka adalah bercocok tanam. Mereka membutuhkan air waktu bertanam, membutuhkan pupuk jika padi mulai tumbuh agar menghasilkan padi yang berkualitas super.

Tapi masalah rutin selalu terjadi saat musim tanam tiba, yaitu pupuk langka dan harganya melambung tinggi. Sepertinya persoalan ini telah menjadi sebuah agenda tahunan di sentra pertanian seluruh negeri ini, yang membuat para petani semakin tercekik dengan keadaan ini. Keadaan petani diibaratkan bagai sebuah kiasan “besar pasak dari pada tiang” yang mana bisa kita lihat biaya yang dikeluarkan para petani untuk merawat tanamannya cukup malah, sedangkan padi hasil panen harganya selalu dibawah standar. Pemerintah pun tidak pernah bisa membuat perubahan atas kejadian ini.

Para petani di desa kami mengaku pasrah dengan keadaan ini. Seharusnya mereka telah memupuk padinya karena telah berumur satu bulan, tapi apa daya keadaan ini yang memaksa mereka hanya bisa melihat tanaman padinya tumbuh kurang sehat.

Entah siapa yang bermain hingga pupuk selalu langka, yang pasti penyalur pupuk juga tidak pernah tahu. Lemahnya pengawasan dan disparitas harga pupuk bersubsidi diakui penyebab pupuk langka. Apakah masih ada orang yang selalu mencari kesempatan dalam kesusahan ditengah-tengah keadaan masyarakat yang kian terpuruk dengan adanya tiga kali kenaikan BBM selama pemerintahan pak SBY-JK?

Apakah mereka tidak punya hati nurani dengan keadaan ini, apakah mereka tidak pernah berfikir bagaimana jerih payah petani menghasilkan beras yang mereka makan? hedonisme dan individulisme telah melekat kuat dalam sanubari bangsa ini.

Sudah seharusnya masalah tahunan ini bisa diselesaikkan pemerintah. Mengingat pupuk salah satu produk yang mendapatkan subsidi dari pemerintah yang rawan penyelewengan dan nasib petani yang selalu merugi disetiap panennya.

Apakah keadaan ini akan terulang kembali musim tanam akan datang? PASTI :-(

24 Responses to this post.

  1. sejak dulu hingga sekarang, nasib petani ndak pernah berubah, mas dafhy. sungguh ironis. sebuah negeri agraris, tetapi para petani bernasib seperti tikus yang mati di lumbung padi. kalau pemerintah memiliki “political will” utk berpihak pada petani mestinya ada upaya serius utk mengawasi distribusi pupuk yang sering dan sengaja dipermainkan oleh pihak2 tertentu yang ingin mengambil keuntungan. sudah harga pupuk mahal, eh, hasil panen terjual dengan harga yang sangat rendah. semoga *lagi2 hanya bisa bermimpi* pemerintah mulai menjadikan petani sebagai subjek, bukan objek. :mrgreen:

    hemmm….betul pak….apakah para pejabat itu tidak pernah berfikir y bagaimana jerih payah para petani untuk menghasilkan beras yang berkualitas yang tentunya setiap hari mereka konsumsi?

    Reply

  2. dulu kita bisa swasembada pangan, rakyat makmur petani makmur. tapi sesudah itu, ya sudah, petani tidak lagi mendapat perhatian apa-apa lagi. negara agraris tinggal istilah saja. oh Indonesiaku.. :(

    ya otulah negara kita mbak….dibalik kemajuan yang para pejabat pamerkan kepada luar negeri sebagai tanda bahwa mereka adalh pemimpini yang mumpuni, rakyatnya sendiri harus bekerja keras tuk membeli sepotong roti ditokonya sendiri :-(

    Reply

  3. kapan ya Indonesia Surplus beras lagi :mrgreen:

    kapan-kapan kali………
    *pesimis* :(

    Reply

  4. salam
    yap saya juga simak beritanya tadi sore, sedih dan miris itu yang saya rasakan, kadang2 serasa ironi sebagai konsumen saya membeli produk2 pertanian begitu mahalnya tapi saat ke lapangan harga yang diterima itu kecil sekali bahkan tak sanggup menutup biaya produksi ya salah satunya kelangkaan pupuk setiap musim tanam yg membuat harganya melonjak pdhl katanya distribusi dari pabriknya telah di keluarkan, so dimana letak salahnya, penimbunan kah, tataniaganya kah, mengapa masih ada pihak2 yang tega, pantas kaum kecil itu sebenarnya bukan miskin secara alamiah tapi mereka miskin dan susah karena kelembagaan, institusi dalam hal ini pemerintah tak perduli dan kemiskinan struktural lah yang kemudian tercipta *sok tahu saya ya* :)

    entah siapa yang bermain dibelakang ini atau dimana letak kesalahannya, bagi para petani yang penting kejadian ini tidak terulang lagi tahun depan

    Reply

  5. sedih n sangat prhatin dgn keadaan bangsa ini….harusnya di negeri ini jg g kenal yg namanya kurang gizi…lbh memiriskan hati kalo ada sodara Qta yg meninggal karena kelaparan…bnr2 sebuah kondisi yg sangat kontradiktif…Tp mau gimana lagi., terlalu banyak org yg hanya memikirkan dirinya sendiri.

    individualisme telah menguasai banyak penduduk negeri ini.negara yang terkenal dengan negara agraris yang seharusnya murah pangan eh malah ada rakyatnya yang mati kelaparan :(
    kapan negara ini benar2 mencapai damai sejati

    Reply

  6. Nasib Buruh,Pegawai rendahan, pedagang kelilingan juga pusing lho saat ini

    yup……..rakyat kecil mang kaya’dah kodrat y tertindas terus. padahal tanpa tenaga para buruh apakah perusahaan akan berproduksi dengan baik?rakyat masih jadi subjek belumjadi objek

    Reply

  7. hmmm speechless dyehh..

    Reply

  8. waduh… sengsara juga ya..

    yup………sengsara kami sengsara karena pupuk (kaya’lagu dangdut aja) :mrgreen:

    Reply

  9. petani…
    pekerjaan yang paling merakyat
    moga pemimpin kedepan bisa mensejahterakan mereka
    tu tugas kita…
    sebagai calon pemimpin bangsa kedepan :D

    amin………
    semoga kita tidak salah pilih pemimpin lagi tahun depan.
    n mari persiapkan diri ini tuk menjadi pemimpin

    “siap dipimpin dan siap memimpin” :mrgreen:

    Reply

  10. Siip… postingan yang mantab pak… dirumah saya harga pupuk juga mahal…
    Petani miskin semakin miskin… sangat ironis dimana jantung kehidupan negara kita di agraris.. harusnya mereka yang paling kaya.. :(

    biasa aja mas…..
    *merunduk*
    yup pak seharuse para petani itu yang kaya tapi kenyataane sebaliknya mereka yang peras keringat yang kaya malah yang diatas :(

    Reply

  11. sangat miris melihat semua kenyatan tsb,
    semoga indonesia terbebas dari keterpurukan

    amin….semoga doa imi dikabulkan Allah SWT

    Reply

  12. kalo yg saya liat, pejabat yg berkuasa cenderung asik sendiri cari aman untuk kantongnya, sementar yg kurang berkuasa asik sendiri celah untuk menjatuhkan lawan sambil lobi kanan-kiri. yg jadi korban ya selalu saja rakyat kecil

    begitulah mas keadaan negri ini.semuanya mementingkan diri sendiri, yang punya uang dan derajat yang tinggi bisa melakukan apa saj dengan mudah. lha yang tak punya apa2 ya cuma bisa gigit jari aja :(

    Reply

  13. kenapa ya
    kok kta malah impor beras
    padahal tanah kita amatlah luas

    g’tau mas……….coba tanya ma rumput yg bergoyang
    mungkin dia tau jawabannya :mrgreen:

    Reply

  14. bingung deh..
    mungkin para politisi punya solusi untuk hal ini..

    yup….kaya’e para politisi itu lebih pintar dari pada kita.jadi tidak mungkin kita bisa memberi solusi kepada mereka karena kita lebih bodoh dari pada mereka. :(

    Reply

  15. Aku titip bibit saw/kangkung/cabai/dll ke temanku waktu pulang ke Indonesia harganya hampir 1 Euros per sachet. Buatku sih tak mahal, tapi kalo aku bandingkan keadaanku di sini dan petani di indonesia, mahal juga ya harga bibit itu.

    yup….perekonomian ditmpte mbak sama di tanah air mungkin beda mbak…disini harga semua kebutuhan meningkat tapi penghasilan rakyat g’pernah bertambah :(

    Reply

  16. kebanyakan mafia di negara agraris ini. eh, masih negara agraris gak sih indonesoa ? :D

    yup mafia berdasi dinegeri ni dah menjamur subur.masih negara agraris mbak tapi petanine sengsara terus.munkin karena petani itu bodoh y sehingga mudah dibodohi orang pintar

    Reply

  17. Rakyak (petani) yang tertekan butuh pembela, orang yang tertindas perlu pelindung, masyarakat perlu panutan. Intinya kita butuh pemimpin yang amanah sehingga petani, pedagang atau siapapun dia dapat mempunyai pelindung.

    yup…setuju intine kita butuh pemimpin yang amanah dan sidiq yang bisa memimpin negara yang sakit ini :)

    Reply

  18. tenang saja daf..
    kan ada bekas jendral yang sangat dekat dengan petani :D

    sabar dulu.. sebentar lagi petani pasti sering diangkat.. :mrgreen:
    pan mau kampanye..

    petani ditempatku dia 100% usaha tani dan tanahnya kebanyakan nyewa.. Alhamudillah sudah naik haji berdua dengan istrinya… jarang nanem padi kecuali untuk konsumsi sendiri, tanaman pokoknya sayuran.

    yup bentar lagi kampanye pemilu 2009, tapi daf takut mas mereka cuma obral janji aja kaya’yg lalu-lalu,rakyat g’butuh janji tapi bukti.:(

    didesa kami sawahnya cuma bisa ditanemi padi,jagung,kedelai mas.cuacane g’mendukung bwt tanem sayur-sayuran

    Reply

  19. semoga tidak
    nyokk , kita berdoa bersama2

    yup….berdo’a dimulai……….
    dah selesai belum? :mrgreen:

    semoga tidak terulang lagi mas tahun depan.kalau begini terus keadaane imana nasib para petani?padahal jasa mereka sangat besar

    Reply

  20. Kayaknya Swasembada pangan harus diprogramkan lagi, keluarga berencana juga harus di
    di jalankan, supaya kualitas hidup dapat di tingkatkan….

    yup usulan yang bagus bu……..
    :mrgreen:

    Reply

  21. denger2 barusan eksport tuh

    kaya’e sich,belum lihat berita :mrgreen:

    Reply

  22. hiks.. sedih ktika mikirin nasib petani, udah susah payah, ditambah dengan kondisi cuaca yg tak menentu, modal berapa , hasil ga seberapa, kapan Indonesia bs menyejahterakan mereka, dan profesi2 lainnya.. *smoga…*

    Reply

  23. kapan yan Indonesia kayak dulu lagi
    sampe kelebihan beras
    sekarang jadi petani tuh susah
    selain pupuk langka, kadang harga di pasaran jatoh banget
    saya mungkin dirumah senang-senang saja ketika harga tomat murah, sampe 2000 perak sekilo, saya jadi bisa sering-sering bikin jus tomat
    tapi kebayang kan berapa harga tomat yang petani jual pada distributor?
    temen saya yang ayhnya bertani sayuran di Pangalengan, Jawa Barat, pernah sampe tomatnya dibeli murah sekali sampe akhirnya dibagi-bagiin ke kita, temen-temen anaknya

    sedih ya?

    Reply

  24. sy ngak gitu ngerti banyak hal soal hidup keluarga petani krn nenek moyang sy dari keluarga pedagang. Tapi menurut yg sy baca, kayaknya, hidup petani susah yah. Tapi sejak dulu kala juga udah susah, jauh sebelum kemerdekaan. Jadi apa bedanya dengan sekarang ?

    btw swt, di negeri manapun di atas bumi ini kayaknya nasib petani di jaman milenium akan seperti itu (atau sy salah yah :) )

    Reply

Respond to this post